Ghozwul Fikri Created By : Diana Herlianita Ghozwul fikri sering diartikan sebagai perang pemikiran. Pemikiran lahir dari buah analisa, pengamatan, pemahaman, perilaku dan sikap hingga bermuara pada tesis, teori atau ideology. Ideology yang lahir dari proses tersebut melahirkan kembali proses-prosesnya sebagaimana ia dilahirkan, yaitu Ideology dapat mempengaruhi pemahaman, pengamatan, sudut pandang bahkan perilaku seseorang. Bahkan gaya hidup serta arah hidup tak lepas dari pengaruh ideology. Contohnya, komunisme, fasisme, liberalism, materialism dan lain sebagainya yang kini kita ketahui telah mempengaruhi hampir seluruh sendi kehidupan manusia. Mengapa demikian? Mengapa ideology mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan manusia? Disini akan saya ulas sedikit tentang ideology menurut pemahaman, pengamatan dan pembelajaran yang saya peroleh. Perbedaan adalah rahmat diantara kalian. Jika perbedaan adalah rahmat dari Allah SWT, berarti ada yang salah dengan kita, mer...
Postingan
Menampilkan postingan dari 2014
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Agama, Negara dan Kebudayaan (Ibnu Chaldun) editor : Diana Herlianita “Agama berhubungan dengan Negara, menurut ibnu chaldun bahwa hubungan antara agama dan Negara yaitu, Agama dapat membuat suatu pemerintahan kekuasaan Negara (Agama dalam suatu Negara adalah suatu keniscayaan).” Pemimpin Negara kebudayaan Solidaritas rakyat Dari bagan diatas, dapat dipahami bahwa suatu Negara terbentuk atas solidaritas rakyat yang akan memunculkan seorang pemimpin atau kepimimpinan yang mengelola Negara tersebut, sehingga sebuah Negara akan melahirkan kebudaayaan yang berasal dari rakyat itu sendiri. Itu jika ditinjau dari segi Negara dan kebudayaan. Hubungan antara Negara, agama dan budaya, dapat dilihat sebagai berikut : · Negara butuh agama = untuk pembentukan nilai moral bangsa dan Negara. · Agama butuh Negara ...
Essay "Gelar Semu Indonesia"
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Gelar Semu Indonesia Ditulis oleh : Diana Herlianita Indonesia dilahirkan dengan berbagai macam sumber daya alam, suku, budaya, bahasa, sehingga banyak yang mengatakan bahwa Indonesia adalah replica atau miniature Surga Dunia . Biji atau bibit apapun yang ditanam akan tumbuh subur, dilautan manaun ditaruh pancingan, akan ada saja penghuni laut yang tertangkap. Saking suburnya, saking melimpah ruahnya sumber daya alam, sehingga pantaslah Indonesia diberi “gelar” demikian. “Gelar” yang kini cukup terkenal dikalangan masyarakat, namun dewasa ini kita tahu bahwa “gelar” tersebut semu, maya yang kelihatan ada padahal tidak ada. Mengapa saya menyebut demikian? Sadarkah bahwa masyarakat Indonesia belum sarjana untuk mendapat gelar tersebut? Sumber daya yang seharusnya dikelola oleh para “sarjana” (baca: pengelola / masayarakat Indonesia) pada kenyataanya hanya dikelola oleh sekumpulan anak-anak remaja Sekolah, yang bahwasanya pengetahuan tentang sumber daya tersebut masih min...